Myhidayah’s Weblog

Jangan berhenti tuk pintar selagi kesempatan itu masih ada

Imam Muslim Juli 29, 2008

Filed under: materi — hieda @ 4:28 pm
Tags: ,

BAB I

PENDAHULUAN

Para ulama’ hadis, mulai kalangan sahabat nabi sampai kepada para ulama’ yang datang setelahnya, telah berhasil menghimpun dan mengkodifikasikan hadis nabi SAW, bahkan mereka juga telah melakukan penyeleksian haids antara yang shohih dan yang tidak shohih.

Mereka semua telah berjasa besar dalam memelihara dan menyebarluaskan hadis-hadis nabi yang merupakan sumber utama setelah Al-Quran. Dalam istilah ilmu hadis, mereka disebut dengan para perowi hadis atau sanad hadis dan jumlahnya banyak sekali.

Dikalangan para sahabat sendiri, terkenal sejumlah nama yang menghafal dan meriwayatkan hadis dalam jumlah yang banyak. Mereka itu dalam istilah ilmu hadis,diberi gelar “Al-Muktsirun Fi Al Hadis”. Sementara itu, di kalangan para ulama’ hadis yang datang setelah sahabat, tercatat pula sederetan nama yang telah berjasa dalam mempelopori dan melakukan pengumpulan pengkodifikasian hadis, baik kegiatan kodifikasi dalam bentuk tahapan awal yang masih bersifat sangat sederhana.

Demikian pula pada masa penyempurnaannya dengan melakukan pemusnahan antara yang hadis nabi SAW dengan yang bukan dan antara yang diterima dan yang ditolak.

Para ulama’ hadis telah melakukan penyelidikan terhadap hadis dengan sangat teliti dan memakai urutan (sanad) yang tebal, berisi ratusan ribu hadis dan sunah.

Ada sembilan kitab hadis yang merupakan kitab ternama yang menjadi pegangan umat islam. Sembilan kitab hadis atau biasa disebut dengan Kutubut Tis’ah itu adalah:

1. Shohih Bukhori, yang dikumpulkan oleh Imam Bukhori

2. Shohih Muslim, yang dikumpulkan oleh Imam Muslim

3. Sunan Tirmidzi, yang dikumpulkan oleh Imam Turmudzi

4. Sunan Nasa’i, yang dikumpulkan oleh Imam An-Nasa’i

5. Sunan Abi Daud, yang dikumpulkan oleh Imam Abu Daud

6. Sunan Ibnu Majah, yang dikumpulkan oleh Imam Ibnu Majah

7. Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal, yang dikumpulkan oleh Imam Ahmad Bin Hanbal

8. Muwatho’ , yang dikumpulkan oleh Imam Malik

9. Sunan Ad-Darimy, yang dikumpulkan oleh Imam Ad-Darimy.

Dalam makalah ini akan dibahas salah satu perowi hadis yang terkenal yang terkenal yakni imam muslim dengan kitab shohihnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Imam Muslim

1. Riwayat Imam Muslim

Imam muslim nama lengkapnya adalah Abul Husain Muslim Ibnul Hajjaj Ibnu Muslim Al-Qusairy An-Nisaburi. Beliau lahir pada tahun 204 H (820 M) di Nisabur, sebuah kota terbesar ketika itu di propinsi Khurasan Iran.[1] Ada juga yang mengatakan beliau lahir tahun 206 H.

Imam muslim berasal dari suku quraisy yang merupakan golongan suku arab di Nishapur (Iran). Imam muslim dinisbatkan kepada nenek moyangnya Qusair Bin Ka’ab Bin Robi’ah Bin Sha’sha’ah suatu keluarga bangsa besar. Imam muslim meninggal di Nishapur (Nisabur) pada hari ahad tahun 261 H (875 M) pada saat berusia 55 tahun dan dimakamkan di Nashar Abad (Nishapur).

Semenjak berusia kanak-kanak beliau telah rajin menutut ilmu, didukung dengan kecerdasan luar biasa, ingatan yang kuat, kemauan keras dan ketekunan yang mengagumkan. Pada usia 10 tahun beliau telah hafal Al-Quran seutuhnya serta ribuan hadis berikut sanadnya.

Ada juga yang mengatakan, bahwa tidak ditemukan literature yang dapat memberikan informasi tentang nenek moyang keluarga dan kehidupan masa kecilnya. Namun tidak diragukan bahwa dia memulai studinya dengan mempelajari Al-Quran dan bahasa arab, sebelum menuntut ilmunya. Beliau memulai mempelajari hadis sejak tahun 219 H, yaitu sekitar berusia 15 tahun.[2]

Pada awalnya beliau mempelajari hadis dari guru-guru yang ada di negerinya, selanjutnya dia melakukan pelawatan keluar daerahnya. Rihlah (pengembaraan) untuk mencari hadis merupakan unsur yang penting. Imam Muslim mengunjungi hampir seluruh pusat-pusat pengajaran hadis dan hal ini beliau lakukan berkali-kali.

Perjalanan pertamanya adalah ke Makkah untuk melakukan ibadah haji pada tahun 220 H. dalam perjalanan ini beliau belajar pada Qa’nabi dan ulama’ lainnya, dan selanjutnya dia kembali ke daerahnya. Pada tahun 230 H, beliau kembali melakukan perjalanan keluar daerahnya, diantaranya Irak, Hijaz, Siria dan Mesir, terakhir pada tahun 259 H beliau pergi ke Bagdad.[3] Dalam perjalanannya tersebut dia menjumpai sejumlah imam dan para hufadz hadis.

Di kota khurasan beliau berguru pada Yahya An-Nisaburi dan Ishaq Bi Rahawaih, didatanginya kota Rey untuk belajar hadis pada Muhammad bin Mahran, Abu Hasan dan lain-lain, di Irak ditemuinya Ibnu Hanbal, Abdullah bin Maslahah dan lain-lainnya, di Hijaz ditemuinya Yazid Bin Mansur dan Abu Mas’ad, dan di Mesir beliau berguru kepada Amir Bin Sawad, Harmalah Bin Yahya dll.

Imam muslim memikul nama besar sebagai ulama’ dan ahli hadis yang sangat masyhur dan terkemuka denga predikat imam, tidak saja karena sifat-sifat pribadi yang dimilikinya sejak kecil, tetapi yang terutama adalah karena diri beliau selalu dihiasi dengan takwa, sholih dan waro’. Kemudian dengan karya-karya yang dihasilkannya, nama beliau semakin tinggi dan menimbulkan hormat bagi setiap ahli ilmu.[4]

2. Guru dan Muridnya Imam Muslim.[5]

Diantara para guru yang ditemui Muslim dalam perlawatan ilmiyahnya tersebut adalah Imam Bukhori, Ahmad Bin Hambal, Ishak Ib’n Rahawaih, Zuhair Bin Harb, Sa’ib Ibn Manshur, Qotadah Bin Said, Al- Qa’naby, Isma’il Bin Uwais, dan guru-guru lainnya yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

Sedangkan murid yang sudah memperoleh ilmu pengetahuan dari Imam Muslim diantaranya adalah Imam Al Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Yahya Bin Said, Abu Hatim, Musa Bin Haran dan lain-lain.

3. Karya Karyanya

Imam Muslim adalah seorang muhadisin yang hafidz lagi terpercaya. Imam muslim mengatakan “ aku telah menulis kitabku ini dari 300.000 hadis masmu’ah (yang didengar secara langsung dari perowinya)”.[6]

Diantara karyanya tersebut, adalah Al-Asma’wa Al-Kuna, Ifrad Al-Shobah, Awham Al- Muhadditsin, Al-Tarikh, Al-Tamyiz, Al-Jami’, Hadis Amr Bin Syu’aib, Rijal Urwah, Sawalatun Ahmad Bin Hambal, Tabaqot, Ala-Ilal Al-Mukhadramin,Al-Musnad Al- Kabir, Masyayikh Al Tsawri, Masyayikh Syu’bah, Masyayikh Malik, Al-Wuhdan, Al-Shahih Al Masnad.[7]

Menurut Ibrahim Bin Muhammad Bin Sufyan, yang telah dikutip oleh Mustofa Azami, bahwa Imam Muslim telah menyusun 3 kitab musnad, yaitu:

1. Musnad yang beliau bacakan yang beliau bacakan kepada masyakat adalah shahih.

2. Musnad yang memuat hadis-hadis, walaupun dari perowi yang lemah.

3. Musnad yang berisi hadis-hadis, walaupun sebagian hadis-hadis itu berasal dari perowi yang lemah.

Dari beberapa karyanya yang berjumlah banyak, maka yang paling terkenal dan terpenting adalah karyanya Al-Shahih, Al-Mukhtashar Min Al-Sunan, Bi Naql Al-‘Adl’an Al-‘Adl ‘An Rosul Allah.[8]

B. Kitab Shohih Muslim

1. Karakteristik Kitab Shohih Muslim

Imam muslim tidak banyak-banyak memberikan perhatian pada batas ektraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir bahasan. Perhatian difokuskan pada Mutaba’at Dan Syawahad.[9]

Kitab shohih muslim dipersembahkan kepada Abu Zur’ah salah seorang kritikus hadis terbesar, yang mana Abu Zur’ah memberikan catatan beberapa cacat dalam hadis. Dan imam muslim kemudian mengoreksi cacat itu dengan membuangnya tanpa argumentasi. Mengingat bahwa beliau tidak mau membukukan hadis shahih yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, maka Imam Muslim hanya meriwayatkan hadis yang diterima oleh kalangan ulama’. Hal seperti itu tampak sekali dari ungkapan pribadi beliau tentang hadis shohihnya yang hanya membukukan hadis-hadis yang diterima sebagai hadis shohih secara merakyat.

Imam Muslim sebagai seorang yang pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhori, tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa hal terlihat pengaruh Imam Bukhori pada karya-karya Imam Muslim. Bahkan hadis yang diterimanya dari bukhori terlihat dituangkan dalam kitabnya. Namun begitu, muslim bukanlah seorang penjiplak. Karena banyak pula yang terdapat didalam muslim tidak terdapat didalam bukhori. Disamping itu terdapat pula beberapa perbedaan yang mendasar (fundamental), seperti sistematika penyusunan bab, persyaratan mengenai perowi hadis, ruang lingkup keilmu-fiqh-an, dan sebagainya.[10]

Salah satu karakteristik Kitab Shahih Muslim adalah kitab yang paling sedikitnya pengulangannya dan indahnya penyusunannya, Imam Muslim selalu memenuhi apa yang terkandung dalam maudhu’ (judul) dan setelah itu tidak mengulanginya lagi.

2. Jumlah Hadis dalam Shohih Muslim

Berdasarkan perhitungan Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, kitab shohih muslim memuat 3.033 hadis. Metode penghitungan beliau tidak berdasarkan pada sistem isnad. Beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Seperti kita ketahui bahwa para muhadditsin biasa menghitung jumlah-jumlah hadis berdasarkan isnad. Oleh sebab itu, jika mengikuti metode mereka, maka jumlah hadis yang dimuat dalam shohih muslim bisa berjumlah dua kali lipat.[11]

Sedangkan menurut Al-Nawawi, bahwa jumlah hadis yang terdapat dalam shohih muslim, tanpa menghitung berulang-ulang adalah sekitar 400 hadis. Hadis-hadis tersebut merupakan hasil dari penyaringan dari 300.000 hadis yang telah berhasil dikumpulkan oleh Imam Muslim.

3. Kandungan Kitab Shohih Muslim

Dalam kitab-kitabnya muslim memberikan corak dan pengaruh yang dalam bagi karangan-karangan dan pembahasan-pembahasan dalam berbagai bidang ilmu agama islam.

Dalam kitab shahihnya muslim banyak sekali memuat hadis-hadis tentang fiqh mulai dari masalah ibadah, muamalah, munakahat dan bidang-bidang ilmu keislaman yang lainnya.

4. Metode Penghimpunan Hadis

Imam muslim melakukan penyeleksian dan penyaringan hadis-hadis tersebut selama 15 tahun. Imam muslim sebagaimana halnya imam bukhori, juga adalah seorang yang sangat ketat dalam menilai dan menyeleksi hadis-hadis yang diperolehnya dari para gurunya kedalam kitab shohihnya.

Dalam hal ini imam muslim mengatakan[12] :

Saya tidak meletakkan sesuatu kedalam kitab (shohih)-ku ini kecuali dengan menggunakan hujjah (dalil,argumen), dan aku tidak mengugurkan (membuang) sesuatu pun dari kitab itu kecuali dengan hujjah”.

(selanjutnya) Muslim berkata :

Tidaklah setiap hadis yang shohih menurut penilaianku, aku masukkan kedalam kitab shohihku, sesungguhnya baru aku masukkan sesuatu hadis kedalamnya apabila telah disepakati oleh para ulama’ hadis atasnya.”

Yang dimaksud ijma’ oleh imam muslim diatas adalah syarat-syarat ke-shohih-an suatu hadis yang telah disepakati oleh para ulama’ hadis.

Beliau berhasil mengumpulkan sejumlah 300.000 hadis. Kemudian dengan sangat cermat dan teliti, hadis sebanyak itu diperiksanya satu persatu dengan suatu sistem yang amat ketat, yang sekarang dapat kita pelajari dalam ilmu mustholahah hadis. Dari hasil penelitiannya itu, hanya serbanyak 7275 hadis yang temasuk kategori shohih. Tetapi yang dituangkan dalam “shahih muslim” hanya ± 4000 hadis, karena 3000 diantaranya ternyata berulang. Imam Nawawi mengatakan, bahwa Imam Muslim telah mengambil cara yang sangat teliti dan cermat bagi kitab shahihnya.[13]

5. Persyaratan Ke-shohih-an Hadis Menurut Imam Muslim

Tentang persyaratan keshohihan suatu hadis, Imam Muslim pada dasarnya sebagaimana Imam Bukhory, tidak menyebutkan secara jelas di dalam kitabnya, namun para ulama’ menyimpulkan dan merumuskan persyaratan yang dikehendaki oleh Imam Muslim berdasarkan metode dan cara dia menerima serta menyeleksi hadis-hadis yang diterima dari berbagai perowi dan selanjutnya memasukkannya ke dalam kitab shohih muslim. Persyaratan tersebut pada dasarnya tidak berbeda dari syarat-syarat ke-shohih-an suatu hadis yang telah disepakati oleh para ulama’, yaitu[14] :

v sanad-nya harus bersambung,

v para perowinya bersifat adil dan dhabith (kuat hafalannya dan memelihara catatannya),

v serta selamat dari syadz dan ‘illat.

Dalam memahami dan menerapkan persyaratan diatas, terdapatnya perbedaan pendapat antara Imam Muslim dan Imam Bukhori, yaitu dalam masalah Ittishal Al-Sanad (persambungan sanad). Menurut Imam Muslim, persambungan sanad cukup dibuktikan melalui hidup semasa (Al-Mu’asharah) antara seorang guru dan muridnya, atau antara seorang perowi dengan perowi yang menyampaikan riwayat kepadanya.

Bukti bahwa keduanya pernah saling bertemu (Al-Liqadh), sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam Bukhori, tidaklah dituntut oleh Imam Muslim, karena menurut Imam Muslim seorang perowi yang tsiqat tidak akan mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu hadis dari seseorang kecuali dia telah mendengar langsung dari orang tersebut, dan dia tidak akan meriwayatkan sesuatu hadis dari orang yang didengarnya itu kecuali apa yang telah dia dengar.

6. Daftar Bab Dalam Kitab Shohih Muslim

Banyak sudah ulama’ terdahulu yang membuat daftar isi kitab shohih muslim. Sebagian membuat daftar menurut potongan hadis dan sebagian lagi memasukkannya di tengah daftar-daftar isi kitab-kitab lainnya, seperti Al-Jami’ Al Shoghir, Al-Jami’ Al Kabir dan Kanz Al Umaal.

Syeih Muhammad Syarif Bin Mustafa Al Tauqaaddi, seorang ulama’ dari Astanah. Beliau membuat daftar isi pedoman kitab shohih muslim yang diberi nama Miftah Shohih Muslim, kitab tersebut disusun dengan menggunakan huruf hijaiyah. Dalam kitab tersebut disertakan nama kitab dan bab dari shohih muslim, juga juz dan halaman dari matan dan dari Shohih Muslim Syarhi An Nawawi.[15]

Dan yang paling akhir, seorang ulama’ Syeikh Muhammad Fuad Abdul Baqi, berusaha membuat daftar indeks shohih muslim dengan sangat teliti model susunannya yang menyeluruh, hingga pembaca akan mengatakan bahwa pembuatnya telah tepat sasaran dalam mengaplikasikan kehendak.

Susunan bab-bab shohih muslim berdasarkan cetakan Isa Al Halbi dan Al Sya’bi yang berupa Shohih Muslim Bi Syarhi Al Nawawi. Jumlah bab-babnya sebanyak 54 bab[16] :

No

Nama kitab

Bilangan hadis

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

Iman

Thaharoh

Haidh

Shalat

Al masjidu (masjid-masjid)

Shalatu musafirina

Al jum’ah

Shalatu idaini (shalat dua hari raya)

Shalatu istisqo’i (shalat minta hujan)

Al kusuf (gerhana)

Al janaiz

Az zakatu

Ash shiyam

Al i’tikafu

Al hajju

Nikah

At thalaq

Ar rodho’u (penyusuan)

Li’an

‘itqu (memerdekakan budak)

Al buyu’

Al musaqtu wal muzara’atu

Al faraid

Al hibahs

Washiyat

Nadzru

Aiman

Qasam

Hudud

Aqdliyatu

Luqathah

Jihad

Imarah

Shaidu (pemburu)

Adla hi (penyembelihan qurban)

Asyribah (minuman)

Libas (pakaian)

Adab (tata susila)

Salam

Alfadh minal adab

Syi’ir

Ru’ya (mimpi)

Al fadhailatu (keutamaan)

Fadhail shahabat

Al birru wa shilatu

Qadar

Ilmu

Adz dzikru wad du’au

Taubat

Shifatul munafiqin

Al jannatu

Al fitanu (kekacauan)

Zuhdu (kezahidan)

Tafsir

380

101

136

285

316

312

13

22

17

29

108

177

222

10

522

110

32

134

20

26

123

143

21

32

22

13

59

39

46

21

19

150

185

30

45

188

127

45

155

21

10

23

174

232

166

34

16

101

60

83

84

142

75

34

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian berkenaan dengan pembagian kitab-kitab tersebut ialah[17] :

1. Imam Muslim memisahkan hadis-hadis qodar dari iman

2. Imam Muslim memisahkan sifat-sifat munafiqin dari iman

3. Imam Muslim menempatkan kitab al-ilmu pada posisi akhir

4. Imam Muslim merinci hadis-hadis yang mengenai adab kepada beberapa kitab, hadis-hadis tersebut selain berada pada kitab adab, terdapat pula pada kitab al-salam. Disamping itu ada pula kitab al-birr wa al shilah wa-al aadab.

7. Syarah atau Komentar

Kitab shohih muslim telah banyak dikomentari oleh beberapa ulama’ hadis diantaranya yaitu yang ditulis oleh Imam Nawawi Asy-Syafi’i, yang diberi judul “Al-Manhaj Fi Syarhi Muslim Bin Hajjaj” kitab syarah ini telah dipublikasikan bekali-kali. Karya Qodhi Iyadh Bin Musa Maliki dengan judul “Al Ikmal Fi Syarhi Muslim”, juga karya Abdul Ghofir Bin Isma’il Al-Farisi dengan judul “Al-Mafhum Fi-Syarhi Gharib Muslim”, dan lain-lain.[18]

8. Kelebihan Kitab Shohih Muslim

Shahih muslim merupakan secermat-cermat isnadnya dan sekurang-kurangnya perulangannya sebab sebuah hadis yang telah beliau letakkan pada suatu maudhu’, tidak lagi ditaruh di maudhu’ atau bab yang lain.[19]

Segala sanad hadis dikumpulkan pada suatu tempat dengan dikemukakan sanad-sanadnya dan lafad-lafadnya yang berbeda-beda. Karenanya mencari hadis dalam shohih muslim lebih mudah, karena hadis-hadis pada suatu bab dikumpulkan di suatu tempat.

Ulama berbeda pendapat mengenai penempatan kualitas kitab hadis shohih antara Shohih Muslim dengan Shohih Bukhori. Sebagian ahli hadis ada yang mengutamakan Imam Muslim dari pada Imam Bukhori. Al-Hafizh an Naisaburi guru Imam Hakim mengatakan[20] :

“ Dikolong langit tidak ada suatu kitab hadispun yang lebh shahih selain kitab Imam Muslim”.

Pendapatnya ini didukung oleh sebagian ulama’ Maghrib. Hal ini terlihat dari sedikitnya hadis yang berulang dan penyusunannya yang baik. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadis shahih muslim mempunyai susunan yang mudah, dan setiap hadis telah ditempatkan pada tempat yang layak dan tepat, sanad-sanadnya lengkap dan bersambung.

Tetapi mayoritas Ahli Huffadz, ahli peneliti hadis dan ahli rahasia-rahasia hadis mengatakan bahwa imam bukhori lebih shahih, lebih teliti dan lebih luas pengetahuannya dalam ilmu hadis.

Para ulama’ berkata bahwa kitab muslim adalah kitab kedua setelah kitab al-bukhori dan tak seorangpun yang menyamai al-bukhory dalam mengkritik sanad-sanad hadis dan perowi-perowinya selain dari muslim.


BAB III

PENUTUP

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa Imam Muslim merupakan seorang huffadz (penghafal hadis) yang terkenal, dan sebagai muhaddis yang menonjol yang mempunyai perhatian lebih terhadap hadis. Hal itu terbukti setelah ia mengadakan rihlah ke berbagai daerah untuk mempelajari dan mengumpulkan hadis.

Berawal dari rihlah tersebut beliau mengumpulkan hadis-hadis dari berbagai perowi hadis dan mulai menyeleksi hadis yang shohih dan yang tidak. Kemudian lahirlah karya-karya Imam Muslim, salah satunya yang terkenal adalah kitab shahih muslim “Jami’ush Shahih”.

Kitab Shahih Muslim merupakan secermat-cermat isnadnya dan sekurang-kurangnya perulangannya sebab sebuah hadis yang telah beliau letakkan pada suatu maudhu’, tidak lagi ditaruh di maudhu’ atau bab yang lain.

Sebagian ulama hadis menyatakan bahwa kitab shahih muslim berada di bawah tingkatan shahih bukhori yang lebih shahih sesudah Al Qur’an. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Kasyfuz Zhunun yang mengatakan bahwa Jamiush Shahih Muslim adalah kitab kedua setelah shahih bukhori.


[1] Ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1993. Hal : XIII

[2] Nawir Yuslem, “Ulumul Hadis”, PT Mutiara Sumber Widya, 2003. Hal : 479

[3] M Mustofa Azami,”Metodologi Kritik Hadis”,Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. Hal : 147.

[4] Ma’mur Daud, Op Cit. Hal : XIII

[5] M Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 148.

[6] Syeikh Mansur Ali Nashif, Penerjemah, Bahrun, Abu Bakar, “ Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rosul SAW”, Bandung: CV Sinar Baru,1993. Hal : 7.

[7] Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 149.

[8] Nawir Yuslem, “Ulumul Hadis”. Hal : 480.

[9] Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 149-150.

[10] Ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1993. Hal : XIV

[11] Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 150.

[12] Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1976. Hal 157.

[13] Ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim. Hal : XIV.

[14] Nawir Yuslem, Op Cit. Hal : 482.

[15] Abu Muhammad Mahdi Bin Abdul Qodir, Alih Bahasa, Said Agil, “Metode Takhrij Hadis”, Semarang: Penerbit Dina Utama.1994.

[16] Hasby As Shiddiqy, Op Cit. Hal : 211-213.

[17] Abu Muhammad Mahdi Bin Abdul Qodir, Op Cit.

[18] Hussein Bahreisy, “Himpunan Hadis Shohih Muslim”, Surabaya : Al-Ikhlas, 1987. Hal : X-XI.

[19] Fatchur Rahman, “Ikhtisar Mushthalahul Hadits”, Bandung: PT Al-Ma’arif,1974. Hal : 299.

[20] Syeih Ahmad Al-Basyuni, “Syarah Hadis: Qobasaat Min As Sunnah An Nabawiyah: (Cuplikan dari Sunnah Nabi Muhammad SAW)”, Bandung: Trigenda Karya,1994. Hal 28.

 

One Response to “Imam Muslim”

  1. Dwi Suparyanto Says:

    Dimana untk mendapatkan buku, Terjemahan Hadis Shahih Muslim, oleh Ma’mur Daud, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1993? Berikut harganya.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.