Myhidayah’s Weblog

Jangan berhenti tuk pintar selagi kesempatan itu masih ada

Renunganku Juli 29, 2008

Filed under: Renungan — hieda @ 4:42 pm

Ketika dunia sudah mulai memperkenalkan produk-produk pemikiran yang semakin menjauhkan manusia dari tuhannya, maka manusia harus mempunyai filter yang kuat dan bersih. Kalau tidak maka kita akan tenggelam dalam provokasinya

Jalanilah hidup ini dengan cinta yang mengalir seperti air. Bila alirannya kecil maka kesegarannya terasa lebih nikmat dan menyegarkan. Dan bila alirannya deras jagalah diri anda jangan sampai terbawa arus.

Jangan berhenti tuk pintar selagi kesempatan itu masih ada

Iklan
 

Imam Muslim

Filed under: materi — hieda @ 4:28 pm
Tags: ,

BAB I

PENDAHULUAN

Para ulama’ hadis, mulai kalangan sahabat nabi sampai kepada para ulama’ yang datang setelahnya, telah berhasil menghimpun dan mengkodifikasikan hadis nabi SAW, bahkan mereka juga telah melakukan penyeleksian haids antara yang shohih dan yang tidak shohih.

Mereka semua telah berjasa besar dalam memelihara dan menyebarluaskan hadis-hadis nabi yang merupakan sumber utama setelah Al-Quran. Dalam istilah ilmu hadis, mereka disebut dengan para perowi hadis atau sanad hadis dan jumlahnya banyak sekali.

Dikalangan para sahabat sendiri, terkenal sejumlah nama yang menghafal dan meriwayatkan hadis dalam jumlah yang banyak. Mereka itu dalam istilah ilmu hadis,diberi gelar “Al-Muktsirun Fi Al Hadis”. Sementara itu, di kalangan para ulama’ hadis yang datang setelah sahabat, tercatat pula sederetan nama yang telah berjasa dalam mempelopori dan melakukan pengumpulan pengkodifikasian hadis, baik kegiatan kodifikasi dalam bentuk tahapan awal yang masih bersifat sangat sederhana.

Demikian pula pada masa penyempurnaannya dengan melakukan pemusnahan antara yang hadis nabi SAW dengan yang bukan dan antara yang diterima dan yang ditolak.

Para ulama’ hadis telah melakukan penyelidikan terhadap hadis dengan sangat teliti dan memakai urutan (sanad) yang tebal, berisi ratusan ribu hadis dan sunah.

Ada sembilan kitab hadis yang merupakan kitab ternama yang menjadi pegangan umat islam. Sembilan kitab hadis atau biasa disebut dengan Kutubut Tis’ah itu adalah:

1. Shohih Bukhori, yang dikumpulkan oleh Imam Bukhori

2. Shohih Muslim, yang dikumpulkan oleh Imam Muslim

3. Sunan Tirmidzi, yang dikumpulkan oleh Imam Turmudzi

4. Sunan Nasa’i, yang dikumpulkan oleh Imam An-Nasa’i

5. Sunan Abi Daud, yang dikumpulkan oleh Imam Abu Daud

6. Sunan Ibnu Majah, yang dikumpulkan oleh Imam Ibnu Majah

7. Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal, yang dikumpulkan oleh Imam Ahmad Bin Hanbal

8. Muwatho’ , yang dikumpulkan oleh Imam Malik

9. Sunan Ad-Darimy, yang dikumpulkan oleh Imam Ad-Darimy.

Dalam makalah ini akan dibahas salah satu perowi hadis yang terkenal yang terkenal yakni imam muslim dengan kitab shohihnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Imam Muslim

1. Riwayat Imam Muslim

Imam muslim nama lengkapnya adalah Abul Husain Muslim Ibnul Hajjaj Ibnu Muslim Al-Qusairy An-Nisaburi. Beliau lahir pada tahun 204 H (820 M) di Nisabur, sebuah kota terbesar ketika itu di propinsi Khurasan Iran.[1] Ada juga yang mengatakan beliau lahir tahun 206 H.

Imam muslim berasal dari suku quraisy yang merupakan golongan suku arab di Nishapur (Iran). Imam muslim dinisbatkan kepada nenek moyangnya Qusair Bin Ka’ab Bin Robi’ah Bin Sha’sha’ah suatu keluarga bangsa besar. Imam muslim meninggal di Nishapur (Nisabur) pada hari ahad tahun 261 H (875 M) pada saat berusia 55 tahun dan dimakamkan di Nashar Abad (Nishapur).

Semenjak berusia kanak-kanak beliau telah rajin menutut ilmu, didukung dengan kecerdasan luar biasa, ingatan yang kuat, kemauan keras dan ketekunan yang mengagumkan. Pada usia 10 tahun beliau telah hafal Al-Quran seutuhnya serta ribuan hadis berikut sanadnya.

Ada juga yang mengatakan, bahwa tidak ditemukan literature yang dapat memberikan informasi tentang nenek moyang keluarga dan kehidupan masa kecilnya. Namun tidak diragukan bahwa dia memulai studinya dengan mempelajari Al-Quran dan bahasa arab, sebelum menuntut ilmunya. Beliau memulai mempelajari hadis sejak tahun 219 H, yaitu sekitar berusia 15 tahun.[2]

Pada awalnya beliau mempelajari hadis dari guru-guru yang ada di negerinya, selanjutnya dia melakukan pelawatan keluar daerahnya. Rihlah (pengembaraan) untuk mencari hadis merupakan unsur yang penting. Imam Muslim mengunjungi hampir seluruh pusat-pusat pengajaran hadis dan hal ini beliau lakukan berkali-kali.

Perjalanan pertamanya adalah ke Makkah untuk melakukan ibadah haji pada tahun 220 H. dalam perjalanan ini beliau belajar pada Qa’nabi dan ulama’ lainnya, dan selanjutnya dia kembali ke daerahnya. Pada tahun 230 H, beliau kembali melakukan perjalanan keluar daerahnya, diantaranya Irak, Hijaz, Siria dan Mesir, terakhir pada tahun 259 H beliau pergi ke Bagdad.[3] Dalam perjalanannya tersebut dia menjumpai sejumlah imam dan para hufadz hadis.

Di kota khurasan beliau berguru pada Yahya An-Nisaburi dan Ishaq Bi Rahawaih, didatanginya kota Rey untuk belajar hadis pada Muhammad bin Mahran, Abu Hasan dan lain-lain, di Irak ditemuinya Ibnu Hanbal, Abdullah bin Maslahah dan lain-lainnya, di Hijaz ditemuinya Yazid Bin Mansur dan Abu Mas’ad, dan di Mesir beliau berguru kepada Amir Bin Sawad, Harmalah Bin Yahya dll.

Imam muslim memikul nama besar sebagai ulama’ dan ahli hadis yang sangat masyhur dan terkemuka denga predikat imam, tidak saja karena sifat-sifat pribadi yang dimilikinya sejak kecil, tetapi yang terutama adalah karena diri beliau selalu dihiasi dengan takwa, sholih dan waro’. Kemudian dengan karya-karya yang dihasilkannya, nama beliau semakin tinggi dan menimbulkan hormat bagi setiap ahli ilmu.[4]

2. Guru dan Muridnya Imam Muslim.[5]

Diantara para guru yang ditemui Muslim dalam perlawatan ilmiyahnya tersebut adalah Imam Bukhori, Ahmad Bin Hambal, Ishak Ib’n Rahawaih, Zuhair Bin Harb, Sa’ib Ibn Manshur, Qotadah Bin Said, Al- Qa’naby, Isma’il Bin Uwais, dan guru-guru lainnya yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

Sedangkan murid yang sudah memperoleh ilmu pengetahuan dari Imam Muslim diantaranya adalah Imam Al Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Yahya Bin Said, Abu Hatim, Musa Bin Haran dan lain-lain.

3. Karya Karyanya

Imam Muslim adalah seorang muhadisin yang hafidz lagi terpercaya. Imam muslim mengatakan “ aku telah menulis kitabku ini dari 300.000 hadis masmu’ah (yang didengar secara langsung dari perowinya)”.[6]

Diantara karyanya tersebut, adalah Al-Asma’wa Al-Kuna, Ifrad Al-Shobah, Awham Al- Muhadditsin, Al-Tarikh, Al-Tamyiz, Al-Jami’, Hadis Amr Bin Syu’aib, Rijal Urwah, Sawalatun Ahmad Bin Hambal, Tabaqot, Ala-Ilal Al-Mukhadramin,Al-Musnad Al- Kabir, Masyayikh Al Tsawri, Masyayikh Syu’bah, Masyayikh Malik, Al-Wuhdan, Al-Shahih Al Masnad.[7]

Menurut Ibrahim Bin Muhammad Bin Sufyan, yang telah dikutip oleh Mustofa Azami, bahwa Imam Muslim telah menyusun 3 kitab musnad, yaitu:

1. Musnad yang beliau bacakan yang beliau bacakan kepada masyakat adalah shahih.

2. Musnad yang memuat hadis-hadis, walaupun dari perowi yang lemah.

3. Musnad yang berisi hadis-hadis, walaupun sebagian hadis-hadis itu berasal dari perowi yang lemah.

Dari beberapa karyanya yang berjumlah banyak, maka yang paling terkenal dan terpenting adalah karyanya Al-Shahih, Al-Mukhtashar Min Al-Sunan, Bi Naql Al-‘Adl’an Al-‘Adl ‘An Rosul Allah.[8]

B. Kitab Shohih Muslim

1. Karakteristik Kitab Shohih Muslim

Imam muslim tidak banyak-banyak memberikan perhatian pada batas ektraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir bahasan. Perhatian difokuskan pada Mutaba’at Dan Syawahad.[9]

Kitab shohih muslim dipersembahkan kepada Abu Zur’ah salah seorang kritikus hadis terbesar, yang mana Abu Zur’ah memberikan catatan beberapa cacat dalam hadis. Dan imam muslim kemudian mengoreksi cacat itu dengan membuangnya tanpa argumentasi. Mengingat bahwa beliau tidak mau membukukan hadis shahih yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, maka Imam Muslim hanya meriwayatkan hadis yang diterima oleh kalangan ulama’. Hal seperti itu tampak sekali dari ungkapan pribadi beliau tentang hadis shohihnya yang hanya membukukan hadis-hadis yang diterima sebagai hadis shohih secara merakyat.

Imam Muslim sebagai seorang yang pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhori, tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa hal terlihat pengaruh Imam Bukhori pada karya-karya Imam Muslim. Bahkan hadis yang diterimanya dari bukhori terlihat dituangkan dalam kitabnya. Namun begitu, muslim bukanlah seorang penjiplak. Karena banyak pula yang terdapat didalam muslim tidak terdapat didalam bukhori. Disamping itu terdapat pula beberapa perbedaan yang mendasar (fundamental), seperti sistematika penyusunan bab, persyaratan mengenai perowi hadis, ruang lingkup keilmu-fiqh-an, dan sebagainya.[10]

Salah satu karakteristik Kitab Shahih Muslim adalah kitab yang paling sedikitnya pengulangannya dan indahnya penyusunannya, Imam Muslim selalu memenuhi apa yang terkandung dalam maudhu’ (judul) dan setelah itu tidak mengulanginya lagi.

2. Jumlah Hadis dalam Shohih Muslim

Berdasarkan perhitungan Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, kitab shohih muslim memuat 3.033 hadis. Metode penghitungan beliau tidak berdasarkan pada sistem isnad. Beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Seperti kita ketahui bahwa para muhadditsin biasa menghitung jumlah-jumlah hadis berdasarkan isnad. Oleh sebab itu, jika mengikuti metode mereka, maka jumlah hadis yang dimuat dalam shohih muslim bisa berjumlah dua kali lipat.[11]

Sedangkan menurut Al-Nawawi, bahwa jumlah hadis yang terdapat dalam shohih muslim, tanpa menghitung berulang-ulang adalah sekitar 400 hadis. Hadis-hadis tersebut merupakan hasil dari penyaringan dari 300.000 hadis yang telah berhasil dikumpulkan oleh Imam Muslim.

3. Kandungan Kitab Shohih Muslim

Dalam kitab-kitabnya muslim memberikan corak dan pengaruh yang dalam bagi karangan-karangan dan pembahasan-pembahasan dalam berbagai bidang ilmu agama islam.

Dalam kitab shahihnya muslim banyak sekali memuat hadis-hadis tentang fiqh mulai dari masalah ibadah, muamalah, munakahat dan bidang-bidang ilmu keislaman yang lainnya.

4. Metode Penghimpunan Hadis

Imam muslim melakukan penyeleksian dan penyaringan hadis-hadis tersebut selama 15 tahun. Imam muslim sebagaimana halnya imam bukhori, juga adalah seorang yang sangat ketat dalam menilai dan menyeleksi hadis-hadis yang diperolehnya dari para gurunya kedalam kitab shohihnya.

Dalam hal ini imam muslim mengatakan[12] :

Saya tidak meletakkan sesuatu kedalam kitab (shohih)-ku ini kecuali dengan menggunakan hujjah (dalil,argumen), dan aku tidak mengugurkan (membuang) sesuatu pun dari kitab itu kecuali dengan hujjah”.

(selanjutnya) Muslim berkata :

Tidaklah setiap hadis yang shohih menurut penilaianku, aku masukkan kedalam kitab shohihku, sesungguhnya baru aku masukkan sesuatu hadis kedalamnya apabila telah disepakati oleh para ulama’ hadis atasnya.”

Yang dimaksud ijma’ oleh imam muslim diatas adalah syarat-syarat ke-shohih-an suatu hadis yang telah disepakati oleh para ulama’ hadis.

Beliau berhasil mengumpulkan sejumlah 300.000 hadis. Kemudian dengan sangat cermat dan teliti, hadis sebanyak itu diperiksanya satu persatu dengan suatu sistem yang amat ketat, yang sekarang dapat kita pelajari dalam ilmu mustholahah hadis. Dari hasil penelitiannya itu, hanya serbanyak 7275 hadis yang temasuk kategori shohih. Tetapi yang dituangkan dalam “shahih muslim” hanya ± 4000 hadis, karena 3000 diantaranya ternyata berulang. Imam Nawawi mengatakan, bahwa Imam Muslim telah mengambil cara yang sangat teliti dan cermat bagi kitab shahihnya.[13]

5. Persyaratan Ke-shohih-an Hadis Menurut Imam Muslim

Tentang persyaratan keshohihan suatu hadis, Imam Muslim pada dasarnya sebagaimana Imam Bukhory, tidak menyebutkan secara jelas di dalam kitabnya, namun para ulama’ menyimpulkan dan merumuskan persyaratan yang dikehendaki oleh Imam Muslim berdasarkan metode dan cara dia menerima serta menyeleksi hadis-hadis yang diterima dari berbagai perowi dan selanjutnya memasukkannya ke dalam kitab shohih muslim. Persyaratan tersebut pada dasarnya tidak berbeda dari syarat-syarat ke-shohih-an suatu hadis yang telah disepakati oleh para ulama’, yaitu[14] :

v sanad-nya harus bersambung,

v para perowinya bersifat adil dan dhabith (kuat hafalannya dan memelihara catatannya),

v serta selamat dari syadz dan ‘illat.

Dalam memahami dan menerapkan persyaratan diatas, terdapatnya perbedaan pendapat antara Imam Muslim dan Imam Bukhori, yaitu dalam masalah Ittishal Al-Sanad (persambungan sanad). Menurut Imam Muslim, persambungan sanad cukup dibuktikan melalui hidup semasa (Al-Mu’asharah) antara seorang guru dan muridnya, atau antara seorang perowi dengan perowi yang menyampaikan riwayat kepadanya.

Bukti bahwa keduanya pernah saling bertemu (Al-Liqadh), sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam Bukhori, tidaklah dituntut oleh Imam Muslim, karena menurut Imam Muslim seorang perowi yang tsiqat tidak akan mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu hadis dari seseorang kecuali dia telah mendengar langsung dari orang tersebut, dan dia tidak akan meriwayatkan sesuatu hadis dari orang yang didengarnya itu kecuali apa yang telah dia dengar.

6. Daftar Bab Dalam Kitab Shohih Muslim

Banyak sudah ulama’ terdahulu yang membuat daftar isi kitab shohih muslim. Sebagian membuat daftar menurut potongan hadis dan sebagian lagi memasukkannya di tengah daftar-daftar isi kitab-kitab lainnya, seperti Al-Jami’ Al Shoghir, Al-Jami’ Al Kabir dan Kanz Al Umaal.

Syeih Muhammad Syarif Bin Mustafa Al Tauqaaddi, seorang ulama’ dari Astanah. Beliau membuat daftar isi pedoman kitab shohih muslim yang diberi nama Miftah Shohih Muslim, kitab tersebut disusun dengan menggunakan huruf hijaiyah. Dalam kitab tersebut disertakan nama kitab dan bab dari shohih muslim, juga juz dan halaman dari matan dan dari Shohih Muslim Syarhi An Nawawi.[15]

Dan yang paling akhir, seorang ulama’ Syeikh Muhammad Fuad Abdul Baqi, berusaha membuat daftar indeks shohih muslim dengan sangat teliti model susunannya yang menyeluruh, hingga pembaca akan mengatakan bahwa pembuatnya telah tepat sasaran dalam mengaplikasikan kehendak.

Susunan bab-bab shohih muslim berdasarkan cetakan Isa Al Halbi dan Al Sya’bi yang berupa Shohih Muslim Bi Syarhi Al Nawawi. Jumlah bab-babnya sebanyak 54 bab[16] :

No

Nama kitab

Bilangan hadis

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

Iman

Thaharoh

Haidh

Shalat

Al masjidu (masjid-masjid)

Shalatu musafirina

Al jum’ah

Shalatu idaini (shalat dua hari raya)

Shalatu istisqo’i (shalat minta hujan)

Al kusuf (gerhana)

Al janaiz

Az zakatu

Ash shiyam

Al i’tikafu

Al hajju

Nikah

At thalaq

Ar rodho’u (penyusuan)

Li’an

‘itqu (memerdekakan budak)

Al buyu’

Al musaqtu wal muzara’atu

Al faraid

Al hibahs

Washiyat

Nadzru

Aiman

Qasam

Hudud

Aqdliyatu

Luqathah

Jihad

Imarah

Shaidu (pemburu)

Adla hi (penyembelihan qurban)

Asyribah (minuman)

Libas (pakaian)

Adab (tata susila)

Salam

Alfadh minal adab

Syi’ir

Ru’ya (mimpi)

Al fadhailatu (keutamaan)

Fadhail shahabat

Al birru wa shilatu

Qadar

Ilmu

Adz dzikru wad du’au

Taubat

Shifatul munafiqin

Al jannatu

Al fitanu (kekacauan)

Zuhdu (kezahidan)

Tafsir

380

101

136

285

316

312

13

22

17

29

108

177

222

10

522

110

32

134

20

26

123

143

21

32

22

13

59

39

46

21

19

150

185

30

45

188

127

45

155

21

10

23

174

232

166

34

16

101

60

83

84

142

75

34

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian berkenaan dengan pembagian kitab-kitab tersebut ialah[17] :

1. Imam Muslim memisahkan hadis-hadis qodar dari iman

2. Imam Muslim memisahkan sifat-sifat munafiqin dari iman

3. Imam Muslim menempatkan kitab al-ilmu pada posisi akhir

4. Imam Muslim merinci hadis-hadis yang mengenai adab kepada beberapa kitab, hadis-hadis tersebut selain berada pada kitab adab, terdapat pula pada kitab al-salam. Disamping itu ada pula kitab al-birr wa al shilah wa-al aadab.

7. Syarah atau Komentar

Kitab shohih muslim telah banyak dikomentari oleh beberapa ulama’ hadis diantaranya yaitu yang ditulis oleh Imam Nawawi Asy-Syafi’i, yang diberi judul “Al-Manhaj Fi Syarhi Muslim Bin Hajjaj” kitab syarah ini telah dipublikasikan bekali-kali. Karya Qodhi Iyadh Bin Musa Maliki dengan judul “Al Ikmal Fi Syarhi Muslim”, juga karya Abdul Ghofir Bin Isma’il Al-Farisi dengan judul “Al-Mafhum Fi-Syarhi Gharib Muslim”, dan lain-lain.[18]

8. Kelebihan Kitab Shohih Muslim

Shahih muslim merupakan secermat-cermat isnadnya dan sekurang-kurangnya perulangannya sebab sebuah hadis yang telah beliau letakkan pada suatu maudhu’, tidak lagi ditaruh di maudhu’ atau bab yang lain.[19]

Segala sanad hadis dikumpulkan pada suatu tempat dengan dikemukakan sanad-sanadnya dan lafad-lafadnya yang berbeda-beda. Karenanya mencari hadis dalam shohih muslim lebih mudah, karena hadis-hadis pada suatu bab dikumpulkan di suatu tempat.

Ulama berbeda pendapat mengenai penempatan kualitas kitab hadis shohih antara Shohih Muslim dengan Shohih Bukhori. Sebagian ahli hadis ada yang mengutamakan Imam Muslim dari pada Imam Bukhori. Al-Hafizh an Naisaburi guru Imam Hakim mengatakan[20] :

“ Dikolong langit tidak ada suatu kitab hadispun yang lebh shahih selain kitab Imam Muslim”.

Pendapatnya ini didukung oleh sebagian ulama’ Maghrib. Hal ini terlihat dari sedikitnya hadis yang berulang dan penyusunannya yang baik. Imam Nawawi menyatakan bahwa hadis shahih muslim mempunyai susunan yang mudah, dan setiap hadis telah ditempatkan pada tempat yang layak dan tepat, sanad-sanadnya lengkap dan bersambung.

Tetapi mayoritas Ahli Huffadz, ahli peneliti hadis dan ahli rahasia-rahasia hadis mengatakan bahwa imam bukhori lebih shahih, lebih teliti dan lebih luas pengetahuannya dalam ilmu hadis.

Para ulama’ berkata bahwa kitab muslim adalah kitab kedua setelah kitab al-bukhori dan tak seorangpun yang menyamai al-bukhory dalam mengkritik sanad-sanad hadis dan perowi-perowinya selain dari muslim.


BAB III

PENUTUP

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa Imam Muslim merupakan seorang huffadz (penghafal hadis) yang terkenal, dan sebagai muhaddis yang menonjol yang mempunyai perhatian lebih terhadap hadis. Hal itu terbukti setelah ia mengadakan rihlah ke berbagai daerah untuk mempelajari dan mengumpulkan hadis.

Berawal dari rihlah tersebut beliau mengumpulkan hadis-hadis dari berbagai perowi hadis dan mulai menyeleksi hadis yang shohih dan yang tidak. Kemudian lahirlah karya-karya Imam Muslim, salah satunya yang terkenal adalah kitab shahih muslim “Jami’ush Shahih”.

Kitab Shahih Muslim merupakan secermat-cermat isnadnya dan sekurang-kurangnya perulangannya sebab sebuah hadis yang telah beliau letakkan pada suatu maudhu’, tidak lagi ditaruh di maudhu’ atau bab yang lain.

Sebagian ulama hadis menyatakan bahwa kitab shahih muslim berada di bawah tingkatan shahih bukhori yang lebih shahih sesudah Al Qur’an. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Kasyfuz Zhunun yang mengatakan bahwa Jamiush Shahih Muslim adalah kitab kedua setelah shahih bukhori.


[1] Ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1993. Hal : XIII

[2] Nawir Yuslem, “Ulumul Hadis”, PT Mutiara Sumber Widya, 2003. Hal : 479

[3] M Mustofa Azami,”Metodologi Kritik Hadis”,Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. Hal : 147.

[4] Ma’mur Daud, Op Cit. Hal : XIII

[5] M Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 148.

[6] Syeikh Mansur Ali Nashif, Penerjemah, Bahrun, Abu Bakar, “ Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rosul SAW”, Bandung: CV Sinar Baru,1993. Hal : 7.

[7] Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 149.

[8] Nawir Yuslem, “Ulumul Hadis”. Hal : 480.

[9] Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 149-150.

[10] Ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1993. Hal : XIV

[11] Mustofa Azami, Op Cit. Hal : 150.

[12] Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1976. Hal 157.

[13] Ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim. Hal : XIV.

[14] Nawir Yuslem, Op Cit. Hal : 482.

[15] Abu Muhammad Mahdi Bin Abdul Qodir, Alih Bahasa, Said Agil, “Metode Takhrij Hadis”, Semarang: Penerbit Dina Utama.1994.

[16] Hasby As Shiddiqy, Op Cit. Hal : 211-213.

[17] Abu Muhammad Mahdi Bin Abdul Qodir, Op Cit.

[18] Hussein Bahreisy, “Himpunan Hadis Shohih Muslim”, Surabaya : Al-Ikhlas, 1987. Hal : X-XI.

[19] Fatchur Rahman, “Ikhtisar Mushthalahul Hadits”, Bandung: PT Al-Ma’arif,1974. Hal : 299.

[20] Syeih Ahmad Al-Basyuni, “Syarah Hadis: Qobasaat Min As Sunnah An Nabawiyah: (Cuplikan dari Sunnah Nabi Muhammad SAW)”, Bandung: Trigenda Karya,1994. Hal 28.

 

Klasifikasi Hadis Juli 28, 2008

Filed under: materi — hieda @ 2:26 pm
Tags:

KLASIFIKASI HADIS

A. Hadis Ditinjau Dari Sifatnya

Hadis jika ditinjau dari segi sifatnya ada dua yakni hadis Qudsi dan hadis Nabawi. Hadis Qudsi adalah apa yang dikatakan Nabi Muhammad yang isinya dan maknanya dari Allah dan begitu pula lafadnya (menurut pendapat yang masyhur), karena hadis Qudsi merupakan kalam Allah, hanya saja hadis Qudsi tidak mempunyai keistimewaan seperti yang ada pada Al-Qur’an.

Hadis Qudsi tidak mukjiz (mengungguli atau melemahkan), membacanya tidak mengandung arti ibadah, boleh meriwayatkan hanya dengan ma’nanya saja seperti hadis biasa, dan yang tidak bersuci pun boleh membawa dan membaca hadis Qudsi tersebut.[1]

Sedangkan hadis Nabawi adalah perkataan (Sabdanya) Rosul SAW. Makna atau isinya dari Allah SWT, sedangkan lafadnya dari Nabi, sekadar lafadnya tidak menjadi mu’jizat dan oleh karena itu boleh hanya meriwayatkan ma’nanya.

1) Persamaan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi

Baik hadis Nabawi maupun hadis Qudsi pada dasarnya keduanya bersumber dari wahyu Allah. Selain itu redaksi keduanya disusun oleh Nabi. Jadi, yang tertulis itu semata-mata dari ungkapan atau kata-kata Nabi sendiri.

2) Perbedaan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi

Hadis Qudsi biasanya diberi ciri-ciri dengan dibubuhi kalimat-kalimat seperti qala (yaqulu) Allahu, fima yarwihi ‘anillahi Tabaraka wa Ta’ala dan lafad-lafad lain yang semakna dengan apa yang tersebut diatas, dan letaknya setelah penyebutan rowi yang menjadi sumber (pertama) nya yakni sahabat, sedang untuk hadis Nabawi, tidak ada tanda-tanda seperti itu.[2]

Perbedaan hadis Qudsi dan hadis Nabawi juga dapat dilihat dari sudut sandarannya, nisbatnya dan jumlah kuantitasnya. Dari sudut sandarannya, hadis Nabawi disandarkan kepada Nabi sedangkan hadis Qudsi disandarkan kepada Nabi dan Allah SWT.

Misal hadis

Dari sudut nisbahnya, hadis Nabawi dinisbahkan kepada Nabi, baik redaksi maupun maknanya, sedangkan hadis Qudsi maknanya dinisbahkan kepada Allah SWT dan redaksinya kepada Nabi. Dan dari sudut kuantitasnya, jumlah hadis Qudsi jauh lebih sedikit dari pada hadis Nabawi.[3]

B. Bentuk-Bentuk Hadis

1) Hadis Qouli

Hadis Qouli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan ataupun ucapan yang memuat maksud-maksud syara’, peristiwa, dan keadaan yang berkaitan dengan aqidah, syari’ah, akhlak atau yang lainnya. Contohnya ialah hadis tentang do’a Rosulullah yang ditujukan kepada orang-orang yang mendengar, menghafal dan menyampaikan ilmu.

2) Hadis Fi’li

Hadis Fi’li adalah hadis yang menyebutkan perbuatan nabi Muhammad yang sampai pada kita. Perbuatan Rosul tersebut adalah yang sifatnya dapat dijadikan contoh teladan, dalil untuk penetapan hukum syara’ atau pelaksanaan suatu ibadah. Seperti tata cara pelaksanaan ibadah shalat, haji dan lain-lain.

3) Hadis Taqriry

Hadis Taqriry adalah hadis yang menyebutkan ketetapan Nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya. Nabi membiarkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat apabila memenuhi beberapa syarat baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya. Perkataan atau perbuatan sahabat yang diakui atau disetujui oleh Rosul, hukumnya sama dengan perkataan atau perbuatan Rosul sendiri. Demikian juga taqrir terhadap ijtihad sahabat dinyatakan sebagai hadis atau sunnah.[4]

4) Hadis Hammi

Hadis yang menyebutkan keinginan Nabi Muhammad yang belum terealisasikan seperti halnya keinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 ‘Asyura. Tetapi nabi belum sempat merealisasikan keinginannya karena beliau wafat sebelum bulan ‘Asyura. Menurut imam Syafi’i dan para pengikutnya bahwa menjalankan hadis hammi ini disunnahkan.[5]

5) Hadis Ahwali/ Sifati

Adalah hadis yang menyebutkan hal ihwal Nabi Muhammad yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat (lahiri batini) dan kepribadiannya. Misal hadis tentang keadaan fisik nabi Muhammad yang dalam beberapa hadis disebutkan bahwa beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Mengenai sifat Rosul, ada hadis yang diriwayatkan oleh Umar yang mengatakan bahwa nabi itu berakhlak baik.[6]

C. Hadis Ditinjau Dari Jumlah Perawi

Ditinjau dari segi jumlah perawinya, hadis terbagi menjadi dua yakni Hadis Mutawatir Dan Hadis Ahad.

a. Hadis Mutawatir

Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang, berdasarkan panca indera, yang menurut adat, mustahil mereka terlebih dahulu untuk sepakat berdusta. Keadaan periwayatan itu terus menerus demikian, sejak thabaqoh yang pertama sampai thabaqoh yang terakhir.

Ada beberapa syarat-syarat hadis disebut sebagai hadis mutawatir, yakni :[7]

ó Hadis itu diperoleh dari Nabi atas dasar panca indera yang yaqin. Maksudnya, bahwa perawi dalam memperoleh hadis Nabi, haruslah benar-benar dari hasil pendengaran atau penglihatan sendiri.

ó Bilangan perawinya, dilihat dari segi banyaknya, telah mencapai jumlah yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Apabila suatu berita telah menfaidahkan yakin tetapi kalau periwayatnya tidak banyak maka tidak dapat dikategorikan sebagai hadis mutawatir. Adapun mengenai jumlah bilangan perawi yang harus berjumlah banyak itu, ulama’ berbeda pendapat :

Abu Thayyib menetapkan, minimal 4 orang. Alasannya dengan mengqiyaskan terhadap ketentuan bilangan saksi yang diperlukan dalam suatu perkara.

Sebagian golongan Syafi’i menetapkan, minimal 5 orang. Alasannya dengan mengqiyaskan terhadap jumlah 5 orang nabi yang bergelar ulul azmi.

Sebagian ulama ada yang menetapkan 20 orang. Alasannya dengan mengqiyaskan bilangan 20 tersebut dengan ayat Al- Qur’an surat Al-Anfal 65.

Sebagian ulama ada yangmenetapkan minimal 40 orang, ada yang menyatakan minimal 10 orang, 12 orang, 70 orang dan lain-lain.

Sebenarnya mengenai jumlah bilangan rowi tersebut yang terpenting adalah dari segi peninjauan adat, bahwa dengan jumlah tersebut sudah meyaqinkan, dan mustahil terjadi kesepakatan terlebih dahulu untuk berdusta.

ó Ada keseimbangan jumlah perawi antara thabaqah masing-masing. Apabila jumlah perawi pada thabaqoh pertama sekitar 10 orang, maka thabaqoh-thabaqoh lainnya juga harus sekitar 10 orang.

Macam-macam hadis mutawatir, ada 3 macam yakni:

§ Hadis Mutawatir Lafdzy

Yakni, hadis mutawatir yang diriwayatkan dengan lafadz dan ma’na yang sama, serta kandungan hokum yang sama pula.

§ Hadis Mutawatir Ma’nawi

Ya’ni hadis mutawatir yang berasal dari berbagai hadis yang diriwayatkan dengan lafadz yang berbeda-beda, tetapi apabila dikimpulkan memmpunyai ma’na umum yang sama. Misalnya hadis tentaqng mengangkat tangan waktu berdo’a diluar shalat. Ada sekitar 100 hadis yang bila dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa nabi bila berdo’a diluar sholat, beliau selalu mengangkat tangan.

§ Hadis Mutawatir Amali

Yakni amalan agama atau ibadah yang dikerjakan oleh rosulullah kemudian diikuti oleh para sahabat lalu diikuti oleh para tabi’in dan seterusnya. Seperti hadis Nabi tentang adanya sholat jenazah, sholat I’d dan lain-lain.[8]

Kebanyakan ulama’ berpendapat, bahwa keyakinan yang diperoleh dari Hadis Mutawatir, sama kedudukannya dengan keyakinan yang diperoleh dengan mata atau penyaksian sendiri. Karenanya hadis mutawatir memfaidahkan ilmu dlarury hingga membawa kepada keyakinan yang qoth’I. Oleh karena itu petunjuk dari hadis mutawatir wajib diamalkan, sebagaimana wajibnya mengamalkan petunjuk al-Quran.

b. Hadis Ahad

Hadis Ahad menurut istilah berarti hadis yang diriwayatkan oleh seorang atau dua orang atau lebih akan tetapi belum cukup syarat padanya untuk dimasukkan sebagai mutawatir. Dengan kata lain hadis ahad adalah hadis yang jumlah perawinya tidak sampai kepada tingkat jumlah mutawatir.

Hadis ahad dibagi menjadi 3 bagian ya’ni :

§ Hadis masyhur

Menurut bahasa hadis masyhur adalah hadis yang sudah popular dan sudah tersebar. Menurut sebagian ulama’, hadis masyhur adalah hadis yang pada thabaqah perawi pertama dan kedua, terdiri dari seorang kemudian pada thobaqoh berikutnya barulah tersebar luas, yang disampaikan oleh orang banyak yang mustahil mereka sepakat terlebih dahulu untuk berdusta.

Ada perbedaan para ulama dalam menilai kualitas hadis masyhur. Ulama ushul menempatkan hadis masyhur berada antara hadis mutawatir dan hadis ahad. bahkan ada kecenderungan menempatkan hadis masyhur lebih dekat pada hadis mutawatir. Sedangkan sebagian ulama yang lain menempatkan hadis masyhur sebagai bagian dari hadis ahad.[9]

Apabila dilihat dari segi dikalangan mana hadis tersebut menjadi masyhur atau popular, maka hadis masyhur dapat dibedakan menjadi

Hadis yang masyhur dikalangan ulama’ hadis saja.

Hadis yang masyhur dikalangan ulama’ hadis dan ulama’ lainnya.

Hadis yang masyhur dikalangan ulama’ yang bukan ulama’ hadis.

Hadis yang masyhur dikalangan masyarakat awam.

§ Hadis Aziz

Menurut sebagian ulama, Hadis Aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang dari dua orang. Maksudnya, sanad hadis tersebut pada thabaqoh pertama sampai thobaqoh yang terakhir, masing-masing terdiri dari dua orang. Sebagian ulama’ lainnya berpendapat, hadis aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang pada sebagian thabaqahnya dan pada thabaqah lainnya ada yang lebih dari dua orang.[10]

§ Hadis Ghorib

Menurut ibnu hajar, Hadis Gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perowi dengan tidak dipersoalkan apakah rowi yang seorang itu ada di thabaqah pertama atau dithabaqah lainnya.

Ditinjau dari segi penyendirian rowi, Hadis Gharib dibagi menjadi 2 bagian ya’ni gharib mutlak dan gharib nisbi.[11]

Gharib Mutlak, apabila keghariban perawi yang seorang itu terjadi pada ashal sanad atau pada tabi’it tabi’in atau dapat juga pada seluruh rawinya disetiap tabaqah. Jadi, kegariban disini dilihat dari segi kesendirian rowi dari setiap sanad. Ketentuan ini tidak berlaku pada kesendiriannya sahabat.

Garib Nisbi, apabila penyendirian itu mengenai sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang rawi. Penyendirian rowi mengenai sifat-sifat atau keadaan tertentu pada seorang rawi mempunyai beberapa kemungkinan yaitu,(1) yang berkenaan dengan sifat keadilan dan kedlobitan rawi,(2) yang berkenaan dengan tempat tinggal rawi, (3) yang berkenaan dengan periwayatan dari perowi tertentu.

D. Hadis Ditinjau dari Kualitas Sanad dan Matannya

Ditinjau dari kualitas sanad dan matannya, ada tiga macam :

1) Hadis Shahih

Menurut istilah Hadis Shahih ialah hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlobith, serta tidak terdapat didalamnya suatu kejanggalan dan cacat.

Syarat-syarat Hadis Shahih ada 5 macam, ya’ni:[12]

Sanad hadis harus bersambung (Ittisholus Sanad)

Maksudnya sanad hadis itu sejak dari mukharrijnya sampai kepada nabi tidak ada yang terputus.

Para perawi yang meriwayatkan hadis itu, haruslah orang yang bersifat adil. Arti adil disini ialah memiliki sifat-sifat :(a) istiqomah dalam agama islam,(b) baik akhlaknya,(c) tidak fasik, antara lain tidak banyak melakukian dosa-dosa kecil apalagi dosa besar,(d) memelihara muru’ahnya (memelihara kehormatan dirinya).

Para perawi yang meriwayatkan hadis itu, haruslah bersifat dlobit. Arti dlobit disini adalah memiliki ingatan dan hafalanyang sempurna. Memahami dan hafal dengan baik apa yang diriwayatkannya serta mampu menyampaikan harfalan itu kapan saja dikehendaki.

Tidak ada kejanggalan–kejanggalan (syudzudz). Maksudnya adalahapa yang sebenarnya berlawanan dengan perikeadaan ang terkandung dalam sifat sikap tsiqoh, atau bertentangan dengan kaidah-kaidah ang telah berlaku secara umum, atau bertentangan dengan hadis ang lebih kuat.

Tidak ada sama sekali cacatnya.

Hadis shohih ada dua macam yakni :

 Hadis shohih li-dzatihi, ya’ni hadis yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi sepenuhnya 5 syarat hadis shahih.

 Hadis shahih li ghoirihi, ya’ni hadis yang pada dirinya sendiri belum mencapai kualitas shahih, misalnya hanya berkualitas hasan lidzatihi, lalu ada petunjuk atau dalil lain yang menguatkannya, maka hadis tersebut meningkat menjadi hadis shahih lighoirihi.

2) Hadis Hasan

Hadis Hasan ialah hadis yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh oleh orang yang adil tetapi kurang sedikit dlobith, tidak terdapat didalamnya suatu kejanggalan dan tidak juga terdapat cacat.

Melihat pengertian ini, maka sesungguhnya hadis hasan itu tidak ada perbedaannya dengan hadis shahih, terkecuali hanya dihafalannya. Untuk hadis hasan, hafalan rowi ada yang kurang sedikit bila dibandingkan dengan hadis yang shohih. Adapun untuk syarat-syarat lainnya antara hadis hasan dan shahih sama.

Hadis hasan dibagi menjadi 2 bagian ;

 Hadis hasan li-dzatihi, yakni hadis yang dirinya sendiri telah memenuhi kriteria hadis hasan, jadi kehasanannya bukan karena adanya petunjuk atau penguat lain, tetapi karena sebab dirinya sendiri.

 Hadis hasan li ghairihi, yakni hadis yang sanadnya ada rowi yang tidak diakui keahliannya, tetapi dia bukanlah orang yang terlalu banyak kesalahan dalam meriwayatkan hadis, kemudian ada riwayat dengan sanad yang lain yang bersesuaian dengan maknanya.

Hadis hasan li ghairihi itu pada asalnya adalah hadis dha’if. Kemudian ada petunjuk lain yang menolongnya, sehingga ia meningkat menjadi hasan.

3) Hadis Dha’if

Hadis Dha’if adalah hadis yang tidak memiliki salah satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadis shahih dan hadis hasan.

Hadis dho’if dapat dilihat dari dua segi, yakni :

 Hadis dha’if dilihat dari segi adanya keguguran sanad

suatu hadis yang sanadnya terputus, sudah jelas termasuk hadis dha’if. Sebab, salah satu syarat bagi hadis shahih dan hadis hasan adalah sanadnya yang bersambung. Terputusnya atau gugurnya suatu sanad, mungkin berada di awal sanad, mungkin di pertengahan, mungkin di akhirnya dan mungkin seluruhnya.

Macam-macam hadis yang terputus sanadnya adalah hadis Mu’allaq, hadis Munqathi’, hadis Mu’dlal, hadis Mudallas, dan hadis Mursal.

 Hadis dha’if dilihat dari selain gugurnya sanad

adalah hadis dha’if yang terdapat cacat pada diri salah seorang perawi atau matannya. Yang dimaksud dengan cacat pada perawi adalah bahwa terdapat kekurangan atau cacat pada diri perawi tersebut, baik dari segi keadilannya, agamanya, atau dari segi ingatan, hafalan dan ketelitiannya.

Cacat yang berhubungan dengan keadilan seorang perawi adalah (a) pembohong/pendusta, (b) dituduh berbohong, (c) fasik, (d) berbuat bid’ah, (e) tidak diketahui keadaannya.

Cacat yang berhubungan dengan ingatan dan hafalan perawi adalah (a) sangat keliru/sangat dalam kesalahannya, (b) buruk hafalannya, (c) lalai, (d) banyak prasangka, (e) menyalahi perawi yang tsiqat.[13]

Beberapa hadis dha’if yang masuk kedalam kategori ini adalah hadis Mudha’af, hadis Mudltharib, hadis Maqlub, hadis Syadz, hadis Mungkar dan hadis Matruk. Sedangkan hadis dha’if yang paling buruk keadaannya adalah hadis Maudhu’, yang penyebab cacat perawinya dikarenakan dusta atau pembohong.

E. Nilai Kehujjahan Hadis

Status dan kualitas suatu hadis, tergantung sanad dan matan hadis tersebut. Apabila sanad suatu hadis telah memenuhi syarat dan criteria tertentu demikian juga matannya, maka hadis tersebut dapat diterima sebagai dalil untuk melakukan sesuatu atau menetapkan hokum atas sesuatu. Akan tetapi apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka hadis tersebut ditolak dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Hadis yang dapat diterima sebagai hujjah disebut Hadis Maqbul. Diantara syarat qobul suatu hadis adalah berhubungan erat dengan sanad hadis tersebut, yakni: (1) sanadnya bersambung, (2) bersifat adil, (3) dlobith. Dan syarat yang berhubungan dengan matan hadis adalah,(4) hadisnya tidak syadz, dan (5) tidak terdapat padanya I’lat.[14]

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang termasuk dalam kategori hadis maqbul adalah shohih li-dzatih dan li ghoirih, hasan li li-dzatih dan li ghoirih, dan hadis mutawatir.

Hadis maqbul itu belum tentu wajib diamalkan, oleh karena itu dari segi dapat atau tidaknya hadis maqbul itu diamalkan ada yang ma’mulun bihi dan ada yang ghoiru ma’mulun bihi (tidak diamalkan). Dan ini disebabkan karena kadang-kadang hadis itu walaupun sama shohihnya ada ang berlawanan dan banyak pula yang tidak mempunyai perlawanan.[15]

Sedangkan hadis yang tidak dapat digunakan sebagai hujjah disebut sebagai Hadis Mardud. Yang termasuk dengan hadis mardud adalah hadis dlo’if. Ada 2 pendapat tentang boleh atau tidaknya hadis dlo’if dijadikan hujjah, yakni:

1) Imam Bukhori, Muslim, Ibnu Hazm Dan Abu Bakar Ibnu Aroby menyatakan, hadis dlo’if sama sekali tidak boleh diamalkan, atau dijadikan hujjah, baik untuk masalah yang berhubungan dengan hukum maupun keutamaan amal.

2) Imam Ahmad Bin Hambal, Abdurrahman Bin Mahdi Dan Ibnu Hajar Al Asqolany menyatakan, bahwa hadis dlo’if dapat dijadikan hujjah hanya untuk dasar keutamaan amal dengan syarat :(a) para rowi yang meriwayatkan hadis itu, tidak terlalu lemah, (b) masalah yang dikemukakan oleh hadis itu, mempunyai dasar pokok yang ditetapkan oleh al-quran dan hadis sohih, (c) tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat.[16]

Para ulama’ hadis sepakat tidak membolehkan hadis dlo’if sebagai hujjah baik soal keutamaan amal maupun makarimul akhlak.

Referensi :

Al Basyuni, Syekh Ahmad, 1994, Syarah Hadis : Qabasaat Min As Sunnah An Nabawiyah-Cuplikan Dari Sunnah Nabi Muhammad, Bandung : Penerbit Trigenda Karya.

Anwar, Moh., Ilmu Mustholahah Hadis, Surabaya : Al-Ikhlas.

Ismail, Syuhudi M, Pengantar Ilmu Hadis, Bandung : Penerbit Angkasa

Mudassir, 1999, Ilmu Hadis, Bandung : CV Pustaka Setia.

Rahman, Fatchur,1974, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, Bandung : Penerbit Al Ma’arif.

Ranuwijaya, Utang, 1996, Ilmu Hadis, Jakarta : Gaya Media Pratama.

Yuslem, Nawir, 2001, Ulumul Hadis, PT Mutiara Sumber Widya.


[1] Syekh Ahmad Al Basyuni, Syarah Hadis Qabasaat Min As Sunnah An Nabawiyah-Cuplikan Dari Sunnah Nabi Muhammad, Penerbit Trigenda Karya, Bandung, 1994. hal 26

[2] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, Penerbit Al Ma’arif, Bandung, 1974. hal 69

[3] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1996. hal 40.

[4] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, PT Mutiara Sumber Widya, 2001. hal 50.

[5] H. Mudassir, Ilmu Hadis, CV Pustaka Setia, Bandung, 1999. hal 36

[6] Ibid. hal 37.

[7] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, Penerbit Angkasa, Bandung. Hal 135.

[8] Ibid. Hal. 138.

[9] Ibid. Hal. 142

[10] Ibid. Hal. 150.

[11] Fatchur Rahman,Ikhtisar Mustalakhul Hadis, PT Al Ma’arif, Bandung, 1974. Hal. 98.

[12] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, Penerbit Angkasa, Bandung. Hal. 179

[13] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, PT Mutiara Sumber Widya, 2001. Hal 256

[14] Ibid. hal. 160

[15] Moh. Anwar, Ilmu Mustholahah Hadis, Al-Ikhlas, Surabaya. Hal. 70

[16] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, Penerbit Angkasa, Bandung. Hal. 187

 

welcome in my blog Juli 25, 2008

Filed under: Uncategorized — hieda @ 3:08 pm

Alhamdulillah…akhirnya bisa juga buat blog. Ternyata emang ga sulit-sulit amat. Meskipun sampek saat ini masih bingung mo nulis apa di blog ini. herannya kalo lagi di depan komputer jadi blank pikiranku. rencana pengen nulis ini itu jadi ilanx smua deh. mungkin karna awal buat blog kali yah…

mga aja besok aq uda bisa ngisi blog baruku ini…